Kuku Bebek
Di sekolah, anak - anak biasa berdebat tentang sesuatu. Saling
mengemukakan pendapat. Silang pendapat. Kemudian ada juga yang menjadi
penengah. Hingga akhirnya mereka sama - sama sepakat. Dan main bersama
lagi. Belum pernah ada kejadian, mereka trus ribut karena perbedaan
pendapat hingga sampai bermusuhan.
Berikut ini ceritanya
Berikut ini ceritanya
Di suatu pagi....
Dzikra, Faaruuq, Abi, Naufal dan Radinka. Mereka bermain secara berdampingan. Masing - masing dengan keranjang mainannya. Sambil bermain mereka ngobrol seru banget. Tapi, tidak tahu bagaimana berawalnya, yang pasti begini akhirnya..
"Bebek gak punya kuku," kata Dzikra kenceng.
"Iya. Bebek tuh gak punya kuku," Abi membenarkan pendapat Dzikra.
"Ada. Bebek punya kuku," Faaruuq membantah.
Dan terjadilah perdebatan seru tentang bebek punya kuku atau tidak.
Aku yang tengah merapikan buku serta ibu guru yang lain, hanya mendengarkan perdebatan itu. Tidak memberikan bantuan. Karena ibu guru sangat yakin, ketika tidak menemukan kata sepakat, anak - anak pasti akan datang pada ibu guru. Meminta bantuan.
Tak sadar, semua telah kembali bermain lagi. Tak terdengar keributan seperti awalnya.
Maka 'iseng'lah aku berkata pada mereka, "Bebek tuh punya kuku, Nak."
Tapi.. apa yang terjadi?
"Aku tadi sudah kasih tahu Dzikra. Bu Yayuk gak usah kasih tahu lagi," protes Maica.
(Waduh.... ada yang ambil alih tugas ibu guru, nih).
(Posting : fb)
Komentar