Karena Dia Pinjamkan

Disini lagi...

Semua berawal 3 tahun yang lalu....

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan yang panjang dan melelahkan, dokter menemukan ada 'masalah' pada katup jantung bapak. Diperlukan perawatan intensif setidaknya selama 2 minggu dengan rawat inap.

Do'aku saat itu...
'Ya Allah, ijinkan kami mengupayakan kesembuhan bapak sampai batas kemampuan yang kami miliki'.

Dua hari bapak di rumah sakit, sebuah panggilan telpon masuk ke ponselku. Dari mbak yang mengabarkan bila mas iparku pingsan dan harus dirawat di ruang ICU.

Do'aku saat itu...
'Allah, ini sebatas kemampuan kami menanggungnya, maka kuatkan, ikhlaskan dan sabarkan kami'.

Hari - hari di rumah sakit, menjadi saat - saat yang 'menyiksa'. Kami sepakat untuk merahasiakan kabar ini pada bapak ibu. Dengan alasan kesehatan bapak. Maka dihadapan bapak ibu, aku harus bisa tampil sebiasa mungkin. Tak boleh terlihat sedih. Bila kesedihan ini sudah tak tertahankan, aku memilih untuk sejenak keluar dari kamar perawatan. Untuk menangis. Sejenak melepaskan kesedihan.

Di saat seperti ini, terpikir 'andai saja aku bisa di kloning'. Maka satu bagian diriku akan menemani mbak. Sebagian lainnya berada di sanping bapak ibu.
Tapi aku ingat pesan mbak.. 'Adek temenin bapak ibu. Inshaa Allah disini  mbak sudah banyak yang nemenin'.

Do'aku saat itu...
'Allah terima kasih untuk keluarga, kerabat dan sahabat yang Kau berikan. Yang begitu baik telah menemani kami di kala sedih dan susah'.

Dua hari menjelang kepulangan bapak, akhirnya aku dan adek besar sepakat untuk memberitahukan bapak ibu tentang kondisi kesehatan mas ipar. Ditemani keluarga besar, aku berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan pilihan kata yang tepat saat menyampaikan kabar ini. Menangis. Itulah reaksi pertama bapak ibu setelah aku selesai bercerita.

Do'aku saat itu...
'Allah, kuatkan bapak ibu. Kuatkan kami'.

Akhirnya, waktu kepulangan bapak tiba. Karena masih ada urusan obat - obatan yang belum selesai, maka aku dan adek besar kembali ke rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang, sebuah panggilan telpon dari mbak masuk ke ponselku. Sebuah firasat buruk tiba - tiba saja melintas.
Setelah menjawab salam, mbak berkata lirih, "Dek, mas Sjahid sudah gak ada."
Innalilahi wa innailaihi rojiuun.

Do'aku saat itu...
'Allah, Kau tahu yang terbaik untuk kami. Semoga Kau terima mas Sjahid disisiMu'.

Dan disisa perjalanan menuju ke rumah, aku dan adek besar mencoba menemukan cara terbaik untuk menyampaikan kabar ini pada bapak ibu.
Sesampai di rumah, aku memegang tangan bapak. Sementara adek besar merangkul pundak ibu. Perlahan dengan suara tercekat, aku menyampaikan kabar duka ini.

Adzan maghrib yang terdengar, mengiringi air mata yang mengalir. Bukan menyesali sebuah kepergian. Tapi sebuah tangisan wajar atas sebuah kehilangan.

3 tahun berlalu.........

Dan kini aku menyadari. Ternyata kami tidak pernah kehilangan sesuatu. Karena Allah mengambil kembali apa yang telah dipinjamkanNya selama ini. Untuk kemudian digantikanNya dengan pinjaman yang lain. Yang lebih baik untuk kami menurutNya.

Dan do'aku saat ini....
'Allah, Semoga Kau jaga iman Islam kami agar kami dapat selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau beri'.

Semangat pagi semuanya... Tetap sehat. Tetap semangat. Agar bisa terus mensyukuri nikmat yang Allah berikan.😊.
 
 (Posting : fb)




Komentar

Postingan Populer