#3
Karena restu itu menunggu waktu...
Pekan lalu.....Hujan turun sejak siang.
Pekan lalu.....Hujan turun sejak siang.
"Pak, mbak ke stasiun nya dianter adek pake mobil. Bapak duduk ajah. Banyakin dzikir kalo adek lagi nyetir," begitu mbak berpesan pada bapak ketika sore harinya hendak berangkat ke stasiun dan hujan masih juga turun.
Aku nyengir kuda. Sementara bapak mengiyakan tapi masih 'belum ikhlas'.
Dan jadilah kemudian, sepulang dari stasiun, aku yang berada di belakang kemudi. 'Menuruti' pesan mbak, bapak lebih banyak diam (sambil dzikir) selama aku nyetir. Hingga akhirnya kami sampai di rumah dengan selamat.
Sepekan berlalu, kemarin pagi....
"Mobilnya dipanasin, Dek," kata bapak. "Ayo kita jalan - jalan."
Jadilah kemudian di pagi setelah subuh berlalu, aku bersama bapak dan ibu keliling - keliling. Mungkin masih ingat dengan pesan mbak, bapak dan ibu banyak - banyak dzikir selama aku nyetir.
Soal mati mesin dijalan? Itu tidak perlu ditanyakanlah. Sudah pasti dooong.
Ketika akhirnya sampai kembali ke rumah, aku tahu tanpa harus dikatakan. Restu bapak sudah diberikan. Dan sejak kemarin, aku resmi menjadi 'sopir cadangan nomer 2'. Alias driver #3.
(Posting : fb)
Komentar