Tak Tega
Jadi... Begini ceritanya....
Di suatu pagi yang cerah, datanglah seorang bapak ke sekolah. Sebut saja bapak A. Beliau hendak mendaftarkan putrinya untuk dititipkan di sekolah. Beliau tampak familiar dengan suasana sekolah. Ternyata beberapa tahun yang lalu, putri pertamanya juga dititipkan di sekolah. Pantas saja beliau tampak begitu mantap untuk menitipkan putri keduanya.
Sementara itu...
Diluar kelas,
ada seorang bapak lain yang sedang menunggui putranya yang baru beberapa
hari ini masuk sekolah. Sebut saja bapak B. Beliau tampak duduk
menemani sang putra yang masih menangis dan tidak mau ditinggal.
Kemudian, bapak A menghampiri bapak B.
"Pak, ditinggal saja anaknya. Gak usah ditungguin terus. Nanti malah tambah rewel lho. Anak saya dulu juga begitu. Menangis. Tapi tetap saya tinggal. Harus tega," begitu saran bapak A kepada bapak B. Bapak B tidak menjawab tapi hanya tersenyum kecil.
Hingga sekitar 2 minggu lalu, putri bapak A mulai masuk sekolah. 1 minggu berlalu, sang putri masih saja rewel dan menangis ketika akan ditinggal. Dan di hari yang ke 7, sesuai dengan peraturan sekolah, anak baru harus sudah mulai belajar ditinggal sejak pagi hari. Agar mulai terbiasa dengan teman baru dan suasana belajar. Tidak perlu ditungguin lagi.
Kemudian, bapak A menghampiri bapak B.
"Pak, ditinggal saja anaknya. Gak usah ditungguin terus. Nanti malah tambah rewel lho. Anak saya dulu juga begitu. Menangis. Tapi tetap saya tinggal. Harus tega," begitu saran bapak A kepada bapak B. Bapak B tidak menjawab tapi hanya tersenyum kecil.
Hingga sekitar 2 minggu lalu, putri bapak A mulai masuk sekolah. 1 minggu berlalu, sang putri masih saja rewel dan menangis ketika akan ditinggal. Dan di hari yang ke 7, sesuai dengan peraturan sekolah, anak baru harus sudah mulai belajar ditinggal sejak pagi hari. Agar mulai terbiasa dengan teman baru dan suasana belajar. Tidak perlu ditungguin lagi.
Maka, pagi ini ketika sang putri masih tidak bisa lepas dari bapak A, aku meminta ijin untuk mengambilnya. Begitu peraturannya. Ibu guru harus minta ijin dulu kepada orang tua untuk mengambil anaknya. Bila orang tua sudah siap melepas anaknya, baru ibu guru akan mengambil dari gendongan atau pelukan orang tua. Itu berhubungan dengan 'ketegaan' orang tua mendengar anaknya menangis dan menjerit serta meronta saat diambil dengan 'paksa' dari orang tuanya.
"Saya boleh ambil putrinya, Pak?" Aku meminta ijin.
"Iya bu. Ambil saja," bapak A menjawab dengan mantap dan yakin.
Aku pun mengambil sang putri dari gendongan dan membawa ke halaman belakang sekolah. Pastilah ada tangisan dan penolakan. Tapi ibu guru yang lain sudah siap untuk mulai membujuk si anak baru.
Ketika kemudian aku kembali ke kelas, ternyata bapak A masih berdiri disana dan berkata, "Saya tungguin saja, Bu. Saya gak tega ninggalin anak saya."
Aku dan ibu guru lainnya tentu saja membolehkan. Tapi ada senyum geli yang tersungging dengan tipis di bibir kami. Teringat perkataan bapak A pada bapak B beberapa waktu lalu.
Ternyata... tak semudah kata - kata yang terucap. 😊.
Beruntungnya, selama ini bapak A tidak pernah bertemu bapak B saat menunggui anaknya. Sehingga bapak A tidak perlu memberikan 'klarifikasi' apapun atas apa yang terjadi saat ini.😀.
Begitu cerita panjang hari ini...
(Posting : fb)
Komentar