Kerupuk
Di sekolah, kerupuk menjadi 'makanan mewah'. Untuk mendapatkannya ada syarat dan ketentuan yang berlaku. 😁.
Mengapa harus dibuat seperti itu?
Begini ceritanya.....
Anak - anak (hampir semua anak di sekolah) suka sekali makan kerupuk. Bila saatnya makan siang, kerupuknya habis duluan. Sedangkan nasi dan sayurnya di'cuek'in. Saat harus menghabiskan makan siang, jadi saat yang 'melelahkan'. Untuk anak - anak. Dan juga ibu guru. Karena anak - anak sudah 'kenyang' duluan dengan kerupuk sehingga malas menghabiskan makan siang. Sementara ibu guru memerlukan waktu khusus untuk membujuk agar anak - anak menghabiskan makan siangnya. (Di sekolah, anak - anak diajarkan dan dibiasakan untuk menghabiskan makanan dan tidak membuangnya)
Akhirnya, ibu guru pun membuat peraturan tentang 'pemberian kerupuk'. Untuk mendapat sepotong kerupuk saat makan siang, maka harus menghabiskan makan siangnya dulu atau sayurannya dimakan, bukan disingkir - singkirkan. Atau makan 2 potong kecil jagung dulu atau wortelnya dihabiskan. Dan 'peraturan' lainnya. 😁.
Intinya, anak - anak mampu menghabiskan makan siang lengkap dengan sayurannya. Dan atas 'prestasi' itu, kerupuk menjadi hadiahnya.
Tahukah? Sejak peraturan ini diberlakukan, makan siang jadi acara yang menyenangkan. Sudah jarang lagi ada 'keributan' atau ngambek tidak mau menghabiskan makan siang.
Anak kenyang, ibu guru senang.
Nyenyak pula tidur siang. Ibu guru bertambah riang. 😜.
(Posting : fb)
Komentar