Jodoh

Satu hal yang menyenangkan bagi anak - anak di sekolah adalah membantu ibu guru. Apa saja. Membuangkan sesuatu. Mengambilkan sesuatu. Atau hal membantu lainnya. Bahkan bisa terjadi 'perebutan' sesuatu bila itu sudah menyangkut soal 'membantu ibu guru'. Dalam taraf yang lebih tinggi, terjadi 'keributan' yang membuat ibu guru harus turun tangan.

Seperti ini..

"Anak - anak, sepatu dan sandalnya tolong dibawa masuk, ya. Boleh bantu bawakan sandal dan sepatu ibu guru," aku memberi tahu pada anak - anak pagi ini.

Saat datang, beberapa anak - anak akan meletakkan sepatunya di depan pintu masuk sekolah. Dan nanti bila saatnya mulai belajar, sepatu dan sandal ini akan mereka susun di rak sepatu yang ada belakang.

Satu persatu anak - anak mengambil sandal dan sepatunya. Tak terkecuali Khalisa dan Hasna. Tapi tidak seperti teman lainnya, mereka justru sibuk mengambil sepatu milik ibu guru. Sepasang sepatu yang diperebutkan. Keduanya tidak mau melepaskan dan merasa berhak membawa ke belakang karena lebih dulu memegangnya.

"Hasna, Khalisa gak usah rebutan. Itu lho masih ada sepatunya ibu guru yang lain," aku mencoba menengahi.

"Aku!" teriak Khalisa.

"Aku!" Hasna gak kalah kenceng teriaknya.

Mereka mengabaikan saranku. Dan semakin kencang juga tarik menariknya. Bila dibiarkan, bisa jadi ibu guru pulang gak pake sepatu. Gara - gara sepatunya rusak ditarik sana sini. .
 
"Gini, deh. Hasna bawa yang ini. Khalisa bawa satunya," akhirnya aku turun tangan. Khalisa kuberi sepatu yang kanan. Hasna sepatu yang kiri.

Tampaknya mereka berkenan. Karena setelah itu keduanya segera beranjak ke belakang.

Tapi.. aku ingat sesuatu....

"Taruh sepatunya sebelahan, ya Nak!" aku berseru dari depan.

Karena tak jarang, di sore hari saat akan pulang, ibu guru sibuk mencari 'jodoh' sepatunya. Satu di mana, sebelahnya lagi dimana. .

(Posting : fb)

Komentar

Postingan Populer