Belajar Dari Anak - Anak
Tidak tahu bagaimana awalnya, tiba - tiba saja aku sudah 'terdampar'
disini. Menjadi guru Paud. Allah telah mengatur sedemikian baiknya,
hingga ketika tawaran menjadi guru Paud itu datang, yang terucap
hanyalah, 'Bismilah. Pasti bisa. Harus Bisa. Masak, sih gak bisa.' 😊 ..
Dan inilah catatan perjalanan tahun ke - 7 bersama anak - anak...
Pertama kali bergabung,
bermain dengan anak - anak usia 2 - 5 tahun, sungguh tidak tahu harus
bagaimana. Ada banyak tangisan, jeritan, teriakan, tawa riang. Komplit
semuanya. Tapi perlahan, aku menikmati setiap tangisan yang terdengar,
belajar menghadapi setiap teriakan dan jeritan. Juga mampu tertawa lepas
bersama mereka.
Sehari tanpa bersama anak - anak, membuat badanku
terasa linu - linu. Karena bersama mereka, aku bisa berlari, melompat,
bermain dan bergerak ke sana - kemari. Tanpa aku sadari, anak - anak
telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Sesuatu yang sebagai
orang dewasa, tanpa sadar aku abaikan. Tapi bersama anak - anak, aku
belajar untuk jadi lebih baik, semakin baik dari sebelumnya.
Anak
- anak telah menjadi salah satu guru kehidupan bagiku. Anak - anak?
Menjadi guru? Bukankah kita bisa belajar pada siapa saja. Dari yang muda
sampai yang tua. Dari yang kecil sampai yang besar. Dan bagiku, anak -
anak juga guru. Apa saja, sih yang bisa diambil sebagai pelajaran dari
mereka? Banyak. Banyak Banget. Banyak tak terhitung. Tinggal bagaimana
kita nya saja. Mau atau tidak mengambil pelajaran dari anak - anak.
Dari
pertengkaran mereka, aku belajar untuk tidak menyimpan dendam dan
amarah. Serta belajar jadi pemaaf. Anak - anak tak pernah lama ketika
bertengkar. Saat ibu guru akan mendamaikan, mereka sudah mendamaikan
diri sendiri dan kembali main bersama.
Dari marah mereka,
aku belajar untuk mengerti apa yang terjadi dibalik kemarahan. Anak -
anak, masih belum pandai mengungkapkan perasaan mereka. Rasa marah yang
dimiliki, tak jarang berasal dari orang dewasa yang ada di sekitar
mereka. Yang tanpa sadar telah menjadi role mode bagi si anak saat
marah.
Dari tawa mereka, aku belajar untuk melihat
kehidupan dengan lebih ringan. Dunia anak - anak adalah dunia keceriaan.
Mereka bermain, tertawa, gembira. Karena memang itu dunia mereka. Tak
ada kesusahan. Seharusnya begitu. Tawa dan canda mereka, meluruhkan
semua kesedihan dan kelaraan.
Dari tangis mereka, aku
belajar untuk mengemas setiap air mata. Menangis untuk hal - hal yang
penting. Karena tidak semua harus ditangisi. Ada hal yang gak penting
banget buat ditangisi. Dan aku belajar bijak memilah - milah masalahku.
Dari
pelukan mereka, aku belajar tentang kasih yang tulus. Yang tidak dibuat
- buat. Anak - anak senang sekali di peluk. Mereka memberikan pelukan
dengan sepenuh hati. Bukan sesuatu yang dibuat - buat agar orang lain
senang.
Dari senyum mereka, aku belajar untuk berbagi
kebahagiaan dengan hal yang paling sederhana. Senyuman membuat semuanya
terasa lebih mudah untuk dijalani. Satu senyuman, bisa memberi
kenyamanan pada orang lain, menularkan bahagia, membuat orang merasa
diterima.
Dari tumbuh kembang mereka, aku belajar tentang
sebuah PROSES bukan HASIL. Karena dengan menghargai proses perjalanan
hidup, aku jadi bisa menghargai kehidupan yang diberikan Nya. Karena
proses membuat aku mengerti mana salah, mana benar. Proses mengajari aku
lebih memahami mengapa aku berbeda dengan orang lain.
Dan
ada banyak lagi.. Yang aku tidak mampu menuliskannya. Karena proses
belajar yang anak - anak berikan, tak jarang hanya dapat aku rasakan.
Dan aku tidak pernah berhasil menemukan padan kata yang sesuai untuk
mengungkapkan betapa berterima kasihnya aku kepada mereka, anak - anak
yang telah menjadi salah satu guru terbaikku. Dan pastinya pada Allah
SWT yang telah membuatku 'terdampar' disini.
(Posting : fb)
Komentar