Lho?? Kok??
Salah satu peraturan yang diterapkan di sekolah adalah anak - anak dilarang membawa mainan dalam bentuk apapun ke sekolah. Pastinya ada alasan mengapa larangan ini diberlakukan. Yang paling utama adalah agar anak - anak dapat merasakan kebersamaan. Karena dengan memainkan mainan milik sekolah, maka anak - anak belajar untuk bermain dalam tim, bekerja sama, saling berbagi. Ada beragam mainan yang disediakan sekolah. Namun jumlahnya terbatas. Ketika seorang anak memilih untuk memainkan satu jenis mainan, maka saat ada teman lain yang ingin juga memainkan mainan tersebut, anak - anak belajar untuk antri, bergantian. Atau belajar meminta ijin untuk main bersama.
Selain itu, murid di sekolah berasal dari latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda. Bila ada anak yang membawa mainan bagus, pasti akan menimbulkan keinginan anak lain untuk meminta mainan seperti milik temannya. Padahal dengan kemampuan ekonomi yang biasa - biasa saja, mungkin orang tua lebih memilih untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk anaknya dari pada sebuah mainan.
Tapi dalam prakteknya, masih saja ada anak yang membawa mainan ke sekolah. Dan untuk hal yang satu ini, ibu guru pasti akan langsung meminta si anak untuk menyimpan mainan di tas atau lokernya. Tidak ada kompromi. Karena begitu ada peraturan mendua, maka yang repot ibu guru sendiri nantinya.
Salah satu anak yang selalu membawa mainan ke sekolah adalah Pasha (3 tahun). Setiap hari, ada saja beragam mainan miliknya yang dibawa serta. Dari mobil - mobilan, helikopter, kereta api dan masih banyak lagi. Begitu pun pagi ini. Dia membawa maianan mobil - mobilan baru yang dilengkapi batere sebagai tenaga penggeraknya. Karena banyak yang tertarik melihat, akhirnya mainan itu terlepas dari tangannya, jatuh. Ini membuat salah satu bagian penutup batere terlepas. Kontan saja, dia menangis sejadi - jadinya.
Aku yang baru saja datang, sudah bisa menebak. Pasti air mata itu berhubungan dengan mainannya. Dan ketika ibu guru memintanya untuk menyimpan mainan tersebut di tasnya, aku pun dengan santainya berkata pada Pasha, "Bener, khan? Semua ibu guru sama kok. Mainan gak usah dibawa ke sekolah. Kalau pun dibawa, harus disimpan. Gak dimainkan. Biar tidak rusak." Tapi apa jawabnya? Jawaban yang membuatku tertawa geli. "Ibu, sih datangnya telat. Jadi mobilanku rusak."
Dia menyalahkan kedatanganku pagi ini, yang menurutnya terlambat. Kebetulan hari ini aku tidak piket, sehingga agak siang datang ke sekolah. Biasanya, memang aku yang paling rajin mengingatkannya agar segera memasukkan mainan ke dalam tas di pagi hari. Dan karena hari ini aku datang agak siang, maka akulah penyebab rusak mainannya. Karena menurutnya, bila aku datang lebih pagi, berarti akan lebih cepat juga dia diingatkan untuk memasukkan mainan ke dalam tas.
Ah, ada - ada saja. Mainannya siapa, yang salah siapa. Ujung - ujungnya aku harus minta maaf padanya. Anak yang aneh!!!
Komentar