Akhir Penantian, Awal Kehidupan Baru
Ketika peristiwa Minggu Kelabu itu terjadi, yang pertama kali terlintas dalam benakku adalah Allah berikan ini semua sebatas kemampuanku menjalaninya. Karenanya aku yakin pasti bisa menjalaninya. Seusai ujian ini nantinya, aku akan naik ke kelas yang lebih tinggi dalam ketaqwaanku padaNYA. Dengan catatan aku tetap sabar, yakin pada kehendakNya dan tidak berkeluh kesah. Namun dalam perjalanan waktu menempuh ujian ini, kadang aku lelah dan kehabisan tenaga. Bila sudah begini, aku akan bertanya padanya, 'sesungguhnya, berapa waktu yang kubutuhkan untuk lepas dari trauma pasca perceraian ini?'
Allah tidak langsung memberikan jawaban. Yang diberikanNya adalah kekuatan baru untukku menjalani lagi semua ujiannya ini. Dia tidak pernah memberi sinyal atau pun pertanda kapan trauma ini akan usai. Dan aku harus jalani semuanya dengan kesabaran, bila aku ingin 'lulus dan naik kelas'.
Hingga beberapa hari lalu aku menyadari. Ada sebuah kenyamanan, kelegaan dan kelapangan hati tanpa dikotori oleh amarah, dendam dan sakit hati. Tepatnya setelah aku melepaskan rumahku. Ternyata, melepas rumah itu, memberikan kelegaan yang luar biasa. Aku seperti terlepas dari bayang - bayang dan kenangan masa lalu. Semuanya terangkat begitu saja seiring dengan berpindahtangannya rumah itu.
Aku merasakan hilangnya semua sakit dan terluka yang selama ini kadang tiba - tiba saja hadir. Mengingatnya tidak lagi meninggalkan kemarahan dan menyisakan air mata. Semuanya seakan hilang lenyap begitu saja. Luka itu sepertinya sudah menutup rapat. Bekas lukanya pun tidak membuatku sakit. Bagiku, ini adalah jawaban dariNya atas pertanyaanku selama ini.
Dia berikan waktu padaku selama 3 tahun ini untuk benar - benar menata hati, menata jiwa dan pikiranku. Mencari dan menemukan hal - hal baru yang membuat aku belajar banyak untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berkualitas dari sebelumnya. Bahwa kesalahan bukan untuk diingat. Tapi kesalahan untuk dimaafkan dan diperbaiki. Agar tak terulang lagi, tak masuk ke dalam lubang yang sama berkali - kali. Bahwa menerima sebuah kejadian dengan tulus tanpa prasangka buruk padaNya adalah lebih baik. Karena itu akan memudahkan kita untuk menjalani semua ujian dengan kearifan dan kesadaran bahwa semua berasal dariNya. Dan Dia yang paling tahu yang terbaik untuk hambaNya.
Hari ini, setelah 3 tahun berlalu, aku merasa berada dalam kondisi kejiwaan yang paling stabil. Dengan kelapangan hati, kejernihan pikiran dan keikhlasan, aku menjadikan perceraianku sebagai pelajaran hidup yang tak ternilai. Dan sekarang aku lebih siap menjalani kehidupan baruku. Yang tanpa disertai amarah, dendam, sakit hati dan terluka.
Hidupku pun terus berlanjut........
Komentar